Sabtu, 21 April 2012

makalah hyperemesis gravidarum,abortus dan anemia


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  LATAR BELAKANG
            Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis yang menjadi dambaan setiap pasangan suami istri. Setiap kehamilan diharapkan adalah lahirnya bayi yang sehat dan sempurna secara jasmaniah dengan berat badan yang cukup. Masa kehamilan adalah salah satu fase penting dalam pertumbuhan anak karena calon ibu dan bayi yang di kandungnya membutuhkan gizi yang cukup banyak. (Depkes RI, 2004).  Kekurangan gizi pada pertumbuhan janin akan mengakibatkan beberapa keadaan seperti Kekurangan Energi Protein (KEP), anemia.
            Salah satu komplikasi kehamilan yang mempengaruhi status kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin adalah Hyperemesis Gravidarum dimana kejadian ini dapat dideteksi dan dicegah pada masa kehamilan, mual dan muntah merupakan gangguan yang paling sering dijumpai pada kehamilan trimester I sekitar 60 – 80 % pada primigravida dan 40 – 60 % pada multi gravida (Wiknjosastro, 2006).
            Mengingat bahaya Hyperemesis Gravidarum yang cukup banyak dan sering tidak diketahui dan diperhatikan ibu hamil karena dianggap sebagai hal yang wajar pada kehamilan muda dan tanpa disadari komplikasi tersebut dapat mempengaruhi status kesehatan ibu dan janin bahkan dapat menyebabkan kematian ibu.
            Tingginya angka anemia pada ibu hamil mempunyai kontribusi terhadap tingginya angka bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah di Indonesia yang diperkirankan mencapai 350.000 bayi setiap tahunnya. Oleh karena itu, penanggulangan anemia gizi menjadi salah satu program potensial untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang telah dilaksanakan pemerintah sejak pembangunan jangka panjang.
            Salah satu sasaran yang ditetapkan pada Indonesia sehat 2010 adalah menurunkan angka kematian maternal. Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu masalah besar di negeri ini. Pasalnya, angka kematian ini menunjukan gambaran derajat kesehatan di suatu wilayah, sebagai gambaran indeks pembangunan manusia Indonesia. Angka Kematian Ibu di Indonesia paling tinggi di Asia tenggara 307/100.000 kalahiran. Sementara Indonesia menetapkan target AKI 125/100.000 pada 2015. Karena itu, profesi bidan dalam pelayanan kesehatan sangat penting terutama pada kehamilan yaitu mempersiapkan fisik dan mental ibu dan pasangannya dalam menghadapi persalinan dan kehadiran bayi di tengah-tengah keluarga, dengan menggunakan manajemen kebidanan yaitu, metode pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak mencakup pemberian asuhan kepada individu, keluarga dan masyarakat serta menekan Angka Kematian Ibu tersebut.
       Angka kematian ibu (kematian ibu yaitu sejak masih hamil sampai 42 hari setelah persalinan) menurut  WHO diperkirakan paling sedikit 600.000 ibu meninggal per tahun. Kematian ini merupakan akibat langsung dari kehamilan dan persalinan. Di Indonesia masih terdapat 18.000 ibu yang meninggal setiap tahun akibat komplikasi hamil dan melahirkan. Dari hasil penelitian yang di lakukan  di seluruh dunia bahwa 99 % dari seluruh kematian ibu terjadi di negara sedang berkembang termasuk di Indonesia, dan bagi Negara maju pesat maka kematian ibu sangat sedikit atau hampir tidak ada. Hal ini memberi kejelasan bahwa setiap kematian ibu sesungguhnya dapat dihindari atau dicegah.
       Penyebab utama kematian ibu di Indonesia: perdarahan sebanyak 45,2 %, eklampsia 12,9 %, komplikasi aborsi 11,1 %, sepsis post partum 9,6 %, persalinan 6,5 % anemia 1,6 % lain- lain termasuk penyebab tak langsung 14,1 %.
       Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil adalah masalah besar di Negara berkembang. Di negara miskin sekitar 25 – 50 % kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan.  Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas utama wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari 580.000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin (Saifuddin A. B, 2000).
       Sasaran yang ditetapkan untuk tahun 2015 adalah menurunkan Angka Kematian Ibu untuk mencapai sasaran tersebut ditetapkan pedoman operasionalisasi strategi antara lain adanya Making Pregnancy Safer (MPS), yang merupakan salah satu strategi nasional agar kehamilan dan persalinan berlangsung aman serta bayi yang dilahirkan sehat (Saifuddin A. B, 2000).





1.2  Rumusan masalah
Ruang lingkup permasalahan yang di paparkan dalam makalah ini meliputi :
·         Apa definisi dari hyperemesis gravidarum, anemia dan abortus ?
·         Apa penyebab atau etiologinya ?
·         Apa manifestasi klinis pada penderita  hyperemesis gravidarum, anemia dan abortus?
·         Bagaimana penatalaksana penderita hyperemesis gravidarum, anemia dan abortus?
·         Bagaimana diagnostic penderita hyperemesis gravidarum, anemia dan abortus?
1.3 Tujuan penulisan
Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang asuhan kebidanan dengan komplikasi, kelainan, penyakit dalam masa kehamilan trimester I dan II selain itu untuk mengetahui penyebab dan gejala yang ditimbulkan oleh penderita.
1.4 Manfaat penulisan
    1.4.1 Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan bagi institusi pendidikan untuk menjadi kepustakaan untuk penyusunan karya ilmiah lainnya.
    1.4.2  Bagi mahasiswa

1.      Agar dapat menambah wawasan mengenai anemia kehamilan, hyperemesis gravidarum dan abortus pada wanita sehingga dapat menerapkan dilapangan.
2.      Agar dapat meningkatkan pengetahuan bagi calon tenaga bidan (mahasiswa kebidanan) yang nantinya dapat menjadi bekal ilmu untuk bekerja secara professional sebagai tenaga paramedis.
1.5 Metode penulisan
Metode pengumpulan data yang kami gunakan yaitu dengan metode kepustakaan yaitu dengan membaca dan mengutip dari beberapa buku serta mengunduh  gambaran dari internet yang berhubungan dengan anemia kehamilan, hyperemesis gravidarum dan abortus.
Bab II
Tinjauan Teori
HYPEREMESIS GRAVIDARUM
A.    Definisi
Hyperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan pada wanita hamil sampai mengganggu pekerjaan sehari-hari karena keadaan umumnya menjadi buruk, karena terjadi dehidrasi (Sinopsis Obstetri : 195)
Hyperemesis Gravidarum adalah keadaan dimana seorang dimana seorang ibu memuntahkan segala apa yang dimakan dan yang diminum sehingga berat badan sangat turun, turgor kulit kurang, timbul aseton dalam kencing (Manuaba, 1998).
B.     Etiologi
Sebab pasti belum diketahui. Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Beberapa faktor yang telah ditemukan yaitu :
a.       Faktor presdisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda menimbulkan dugaan faktor hormon memegang peranan karena pada kedua keadaan tersebut hormon khoroniak gonadotropin dibentuk berlebihan.
b.       Faktor organik masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan, ini merupakan faktor organik. Alergi sebagai salah satu respons dari jaringan ibu terhadap anaknya juga disebut sebagai salah satu faktor organik.
c.       Faktor psikologi memegang peranan penting pada penyakit ini, rumah tangga retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan. Takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup (Wiknjosastro, 2005).
d.      Hubungan psikologik dengan Hyperemesis Gravidarum belum diketahui pasti. Tidak jarang dengan memberikan suasana baru, sudah dapat membantu mengurangi frekuensi muntah (http//www.medika.blogspot.com. Diakses 27 Mei 2011).
e.        Faktor endokrin lainnya : hipertiroid, diabetes dan lain – lain
C.     Gejala dan tingkat
Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan bisa lebih dari 10x muntah, akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis
a.       Tingkat I : ringan
Mual muntah terus menerus menyebabkan penderita lemah, tidak mau makan, berat badan   turun dan rasa nyeri diepigastrium, nadi sekitar 100x/menit, tekanan darah turun, turgor kulit kurang, lidah kering, dan mata cekung
b.      Tingkat II : sedang
Mual dan muntah yang hebat menyebabkan keadaan umum penderita lebih parah, lemah, apatis, turgor kulit mulai jelek, lidah kering dan kotor, nadi kecil dan cepat, suhu badan naik (dehidrasi), ikterus ringan, berat badan turun, mata cekung, tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi, dapat pula terjadi asetonuria dan dari nafas keluar bau aseton
c.       Tingkat III : berat
Keadaan umum jelek, kesadaran sangat menurun, somnolen sampai koma, nadi kecil halus dan cepat, dehidrasi hebat, suhu badan naik dan tensi turun sekali, ikterus, komplikasi yang dapat berakibat fatal terjadi pada susunan saraf pusat (ensefalopati wernikel) dengan adanya : nistagmus, diplopia, perubahan mental
D.    Patologi
Dari otopsi wanita yang meninggal karena hiperemesis gravidarum diperoleh keterangan bahwa terjadi kelainan pada organ – organ tubuh sebagai berikut :
a.       Hepar : pada tingkat ringan hanya ditemukan degenerasi lemak sentrilobuler tanpa nekrosis
b.      Jantung : jantung atrofi, kecil dari biasa, kadang kala dijumpai perdarahan sub-endokardial
c.       Otak : terdapat bercak perdarahan pada otak
d.      Ginjal : tampak pucat, degenerasi lemak pada tubuh kontorti

E.     Patofisiologi Hyperemesis Gravidarum
Ada yang menyatakan bahwa perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan ini terjadi pada trimester I. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas, mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan lambung (Wiknjosastro, 2005).
Hyperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya elektrolit dengan alkalosis hipokloremik. Belum jelas mengapa gejala-gejala ini hanya terjadi pada sebagian kecil wanita, tetapi faktor psikologik merupakan faktor utama, di samping pengaruh hormonal. Yang jelas, wanita sebelum kehamilan yang sudah menderita lambung spastik dengan gejala tak suka makan dan mual, akan mengalami emesis gravidarum yang lebih berat (Wiknjosastro, 2005).
 Hyperemesis gravidarum ini dapat mengakibatkan cadangan karbohidrat dan lemak habis terpakai untuk keperluan energi. Karena oksidasi lemak yang tidak sempurna, terjadilah ketosis dengan tertimbunnya asam aseton - asetik, asam hidroksi buitirik dan aseton dalam darah. Kekurangan cairan yang diminum dan kehilangan cairan karena muntah menyebabkan dehidrasi, sehingga cairan ekstraseluler dan plasma berkurang. Natrium dan khlorida darah turun, demikian pula khlorida kemih. Selain itu, dehidrasi menyebabkan hemokonsentrasi, sehingga aliran darah ke jantung berkurang. Hal ini menyebabkan jumlah zat makanan dan oksigen ke jaringan mengurang pula dan tertimbunnya zat metabolik yang toksik.
Kekurangan kalium sebagai akibat dari muntah dan bertambahnya eksresi lewat ginjal, menambah frekuensi muntah yang lebih banyak, dapat merusak hati dan terjadilah lingkaran setan yang sulit untuk dipatahkan. Di samping dehidrasi dan terganggunya keseimbangan elektrolit, dapat terjadi robekan pada selaput lendir esophagus dan lambung dengan akibat perdarahan dapat berhenti sendiri. Jarang sampai diperlukan transfusi atau tindakan operatif (Wiknjosastro, 2005).

F.      Diagnosis Hyperemesis Gravidarum
Menetapkan kejadian Hyperemesis gravidarum tidak sukar, dengan menentukan kehamilan, muntah berlebihan sampai menimbulkan gangguan kehidupan sehari-hari dan dehidrasi. Muntah terus-menerus tanpa pengobatan dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim dengan manifestasi kliniknya. Oleh karena itu, Hiperemesis gravidarum berkelanjutan harus dicegah dan harus mendapat pengobatan yang adequate (Manuaba, 1998).
Adapun diagnosa lain dari Hyperemesis gravidarum yaitu :
a.       Amenorhoe yang disertai muntah yang hebat, pekerjaan sehari-hari terganggu dan haus yang hebat. (Wiknjosastro, 2005).
b.       Fungsi vital
Nadi meningkat 100 kali/menit, tekanan darah turun, pada keadaan berat subfebris dan gangguan kesadaran (apatis/koma).
c.       Fisik
Pada keadaan berat kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun, vaginal thoucher portio lunak, uterus besar sesuai kehamilan.

G.    Penatalaksanaan Hiperemesisi Gravidaeum
a.       Penanganan
1.      Pencegahan dengan memberikan informasi dan edukasi tentang kehamilan kepada ibu – ibu dengan maksud menghilangkan faktor psikis rasa takut, juga tentang diet ibu hamil, makan jangan sekaligus banyak, tetapi dalam porsi sedikit – sedikit namun sering, jangan tiba – tiba berdiri waktu bangun pagi, akan terasa oyong, mual dan muntah, defekasi hendaknya diusahakan teratur
2.      Terapi obat, menggunakan sedative (luminal, stesolid), vitamin (B1 dan B6), anti muntah (mediamer B6, drammamin, avopreg, avomin, torecan), antasida dan anti mulas
3.       Hiperemesis gravidarum tingkat II dan III harus dirawat inap dirumah sakit :
a.       Kadang – kadang pada beberapa wanita hanya tidur dirumah sakit saja, telah banyak mengurangi mual muntahnya
b.       Isolasi, jangan terlalu banyak tamu, kalau perlu hanya perawat dan dokter saja yang boleh masuk, kadang kala hal ini saja tanpa pengobatan khusus telah mengurangi mual dan muntah
c.       Terapi psikologik. Berikan pengertian bahwa kehamilan adalah suatu hal yang wajar, normal dan fisiologis, jadi tak perlu takut dan khawatir. Cari dan coba hilangkan faktor psikologis seperti keadaan sosio ekonomi dan pekerjaan serta lingkungan
d.      Penambahan cairan. Berikan infuse dekstrosa / glukosa 5% sebanyak 2-3 liter dalam 24 jam
e.       Berikan obat – obatan seperti telah dikemukakan diatas
b.      Pengobatan (Manuaba, 1998).
Memberikan obat pada hiperemesis gravidarum sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, sehingga dapat dipilih obat yang tidak bersifat teratogenik (dapat menyebabkan kelainan kongenital cacat bawaan bayi).
 Adapun komponen (susunan obat) yang dapat diberikan adalah :
1)      Sedativa ringan
2)      Phenobarbital (luminal) 30 mgr.
3)      Valium.
4)      Anti alergi
5)      Anthistamin
6)      Dramamin
7)      Avomin
8)      Obat anti mual muntah
9)      Mediamer B6
10)  Vitamin C
11)  Terutama vitamin B kompleks
           c.   Isolasi dan pengobatan psikologis (terapi)
Dengan melakukan isolasi di ruangan sudah dapat meringankan wanita hamil karena perubahan suasana dari lingkungan rumah tangga. Petugas dapat memberikan komunikasi, informasi dan edukasi tentang berbagai masalah yang berkaitan dengan kehamilan.

           d.   Penambahan cairan
Dalam keadaan darurat diberikan cairan pengganti sehingga keadaan dehidrasi dapat diatasi. Cairan pengganti yang diberikan adalah glukosa 5% sampai 10% dengan keuntungan dapat mengganti cairan yang hilang dan berfungsi sebagai sumber energi, sehingga terjadi perubahan metabolisme dari lemak dan protein menuju ke arah pemecahan glukosa. Dalam cairan dapat ditambahkan vitamin C, B kompleks atau kalium yang diperlukan untuk kelancaran metabolisme.
Selama pemberian cairan harus mendapat perhatian tentang keseimbangan cairan yang masuk dan keluar melalui kateter, nadi, tekanan darah, suhu dan pernapasan. Lancarnya pengeluaran urine memberikan petunjuk bahwa keadaan wanita hamil berangsur-angsur baik.
             e.    Menghentikan kehamilan
Pada beberapa kasus, pengobatan hyperemesis gravidarum tidak berhasil malah terjadi kemunduran dan keadaan semakin menurun sehingga diperlukan pertimbangan untuk melakukan gugur kandung. Keadaan yang memerlukan pertimbangan gugur kandung yaitu :
1)      Gangguan kejiwaan
2)       Gangguan penglihatan
3)          Gangguan faal

H.    Prognosis
         Dengan penanganan yang baik, pengobatan hyperemesis gravidarum yang dirawat di rumah sakit hampir seluruhnya dapat dipulangkan dengan sangat memuaskan, sehingga kehamilannya dapat diteruskan.







ANEMIA

A.    Definisi
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002).
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2.
Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya relatif mudah, bahkan murah. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma 30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu (Wiknjosastro, 2002).
B.     Masalah
Frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5&, sedangkan di Amerika hanya 6%. Kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terhadap ibu hamil merupakan predisposisi anemia defisiensi ibu hamil di Indonesia.
            Menurut WHO, 40% kematian ibu di negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan. Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi. kebutuhan ibu selama kehamilan ialah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2 -3 mg besi/hari. Perlu diingat ada beberapa kondisi yang menyebabkan defisiensi kalori-besi, misalnya infeksi kronik, penyakit hati dan thalasemia.
            Efek samping berupa gangguan perut pada pemberian besi oral menurunkan kepatuhan pemakaian secara missal, ternyata rata – rata hanya 15 tablet yang dipakai oleh wanita hamil.
C.      Etiologi Terjadinya Anemia
Menurut Mochtar (1998), disebutkan bahwa penyebab terjadinya anemia adalah :
a.       Kurang Gizi (Mal Nutrisi)
  Disebabkan karena kurang nutrisi kemungkinan menderita anemia.
b.      Kurang Zat Besi Dalam Diet
Diet berpantang telur, daging, hati atau ikan dapat membuka kemungkinan menderita anemia karena diet.
c.       Mal Absorbsi
Penderita gangguan penyerapan zat besi dalam usus dapat menderita anemia. Bisa terjadi karena gangguan pencernaan atau dikonsumsinya substansi penghambat seperti kopi, teh atau serat makanan tertentu tanpa asupan zat besi yang cukup.
d.      Kehilangan banyak darah
Persalinan yang lalu, dan lain-lain semakin sering seorang anemia mengalami kehamilan dan melahirkan akan semakin banyak kehilangan zat besi dan akan menjadi anemia. Jika cadangan zat besi minimal, maka setiap kehamian akan menguras persediaan zat besi tubuh dan akan menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya.
e.      Penyakit-Penyakit Kronis
Penyakit-penyakit kronis seperti : TBC Paru, Cacing usus, dan Malaria dapat menyebabkan anemia.




D.    Penanganan umum
Pemberian kalori 300 kalori/hari dan suplemen besi sebanyak 60 mg/hari kiranya cukup mencegah anemia. Perlu dibuat diagnosa banding sehingga terapi ditujukan dengan tepat.
E.     Pengaruh anenmia terhadap kehamilan, persalinan dan nifas
1)      Keguguran
2)      Partus prematurus
3)      Inersia uteri dan partus lama, ibu lemah.
4)      Atonia uteri dan menyebabkan pendarahan
5)      Syok
6)      Afibrinogemia dan hipofrinogenemia.
7)      Infeksi Intrapartum dan dalam nifas.
8)      Bila terjadi anemia gravis (Hb dibawah 4 gr%) terjadi payah jantung, yang bukan saja menyulitkan kehamilan dan persalinan, bahkan bisa fatal.
PENILAIAN KLINIK
F.      Klasifikasi anemia dalam kehamilan
1)      Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Pengobatannnya yaitu keperluan zat besi untuk ibu hamil, tidak hamil dan dalam laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi yang dapat diberikan melalui :
a.       Terapi oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat dinaikkan kadar Hb sebanyak 1gr %/bulan.
b.      Terapi parenteral diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa kehamilannya tua. Pemberian preparat parental dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 × 10 ml/IM dapat meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr%.


2)      Anemia megaloblastik (29,0%)
Biasanya berbentuk makrositik atau pernisiosa. Penyebabnya adalah kekurangan asam folik, jarang sekali akibat karena kekurangan Vitamin B12. biasanya karena malnutrisi dan infeksi yang kronik.
Pengobatan :
Asam tolik 15 – 30 / hari.
Vitamin B12 3 x 1 tablet perhari.
Sulfas ferosus 3 x 1 tablet per hari.
Pada kasus berat dan pengobatan oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan transfusi darah
3)      Anemia hipoplastik (8,0%)
Anemia hipoplasti Disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan :
Darah tepi lengkap.
Pemeriksaan fungsi sternal.
Pemeriksaan retikulosif, dan lain-lain.
Terapi dengan obat-obatan dan memuaskan, mungkin pengobatan yang paling baik yaitu tranfusi darah, yang perlu sering diulang.
4)      Anemia hemolitik (sel sickle) (0,7%)
Anemia hemolitik disebabkan penghancuran / pemecahan sel darah merah yang lebih cepat dari pembuatannya ini dapat disebankan oleh :
a)      Faktor intra korpuskuler: dijumpai pada anemia hemolitik heriditer, tala semia, anemia sel sickle (sabit), hemoglobinopati C, D, G, H, I, dan paraksimal hokturnal hemoglobinuria.
b)       Faktor ekstra korpuskuler: disebabkan malaria, sepsis, keracunan zat logam, dan dapat beserta obat-obatan, leukimia, penyakit hodgkin, dan lain-lain.
Pengobatannya tergantung pada anemia jenis hemolitik serta penyebabnya. Jika disebabkan infeksi mata maka infeksinya di berantas dulu dan diberikan obat penambah darah.
G.    Pembagian anemia berdasarkan pemeriksaan hemoglobin menurut Manuaba (2007), adalah :
1.      Tidak anemia : Hb 11,00 gr%
2.      Anemia ringan : Hb 9,00 – 10,00 gr%
3.      Anemia sedang : Hb 7,00 – 8,00 gr%
4.      Anemia berat : Hb < 7,00 gr %
H.    Gejala dan tanda
keluhan lemah, pucat, mudah pingsan sementara tensi masih dalam batas normal, perlu di curigai anemia defisiensi. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi, pucat.
I.       Komplikasi Anemia Dalam Kehamilan
Komplikasi anemia dalam kehamilan memberikan pengaruh langsung terhadap janin, sedangkan pengaruh komplikasi pada kehamilan dapat diuraikan, sebagai berikut :
1.      Bahaya Pada Trimester I
Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan congenital, abortus / keguguran.
2.      Bahaya Pada Trimester II
Pada trimester II, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu.


3.      Bahaya Saat Persalinan
Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer dkk, 2008).
J.       Patofisiologi
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding plasma 30,00%, sel darah merah 18,00% dan Hemoglobin 19,00%. Tetapi pembentukan sel darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah atau anemia.
Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita, pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan, karena sebagai akibat hidremia cardiac output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah tidak naik, kedua perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental. Tetapi pengenceran darah yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan anemia. Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu.
K.    Diagnosis
Pemeriksaan kadar Hb dan darah tepi akan memberikan kesan pertama. Pemeriksaan Hb dengan spektrofotometri merupakan standar, kesulitan ialah alat ini hanya tersedia di kota.
Di Indonesia penyakit penyakit kronik seperti : malaria dan TBC masih relatif sering dijumpai sehingga pemeriksaan khusus : darah tepi dan sputum perlu dilakukan. Selanjutnya pemeriksaan khusus untuk membedakan dengan defisiensi asm folat dan thalasemia juga harap dimungkinkan. Pemeriksaan MCV penting untuk menyingkirkan thalasemia. Bila terdapat batas : MCV <80 Ul dan kadar RDW (red cell distrubution width) > 14 % mencurigai akan penyakit ini. Kadar HbF > 2% dan HbA 2 yang abnormal akan menentukan jenis thalasemia.
L.     PENANGANAN
Terapi anemia defisiensi ialah dengan preparat besi oral atau parenteral. Terapi oral ialah dengan pemberian preparat besi : fero sulfat, fero gluconat atau Na-fero bisitrat.
Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relative kecil pada pemberian preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan fero sulfat.
Kini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dan 50 µg asam folat untuk profilaksis anemia.
Pemberian preparat parental yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20 ml) intravena atau 2 × 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb relatif lebih cepat yaitu 2 g%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi : intoleransi besi pada traktus gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi dapat diberikan seluruh dosis.








ABORTUS
A.    Definisi
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa intervensiluar (buatan) untuk mengakhiri kehamilan tersebut.Terminologi umum untuk masalah ini adalah keguguran atau miscarriage.
Abortus buatan adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses kehamilan. Terminologi untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi, atau abortus provokatus.
B.     Masalah :
·         Perdarahan bercak hingga derajat sedang pada kehamilan muda
·         Perdarahan massif atau hebat pada kehamilan muda
C.     Penanganan umum :
·         Lakukan penilaian awal untuk segera menentukan kondisi pasien (gawat, darurat, komplikasi berat atau masih cukup stabil)
·         Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisai pasien sebelum melakukan tindakan lanjutan (evaluasi medik atau merujuk)
·         Penilaian medik untuk menentukan kelainan tindakan di fasilitas kesehatan setempat atau dirujuk kerumah sakit
-          Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan hebat, segera atasi komplikasi tersebut
-          Gunakan jarum infuse besar (16 G atau lebih besar) dan berikan tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam fisiologis atau Ringer
-          Periksa kadar Hb, golongan darah dan uji pandanan-silang (crossmatch)
·         Ingat : kemungkinan hamil ektopik pada pasien hamil muda dengan syok berat
·         Bila terdapat tanda – tanda sepsis, berikan antibiotika yang sesuai
·         Temukan dan hentikan dengan segera sumber perdarahan
·         Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan atau perkembangan lanjutan
D.    Diagnosa dan penatalaksanaan perdarahan pada kehamilan muda
Perdarahan
    Serviks
  Uterus
 Gejala/tanda
Diagnosis
 Tindakan
Bercak hingga sedang











Tertutup










Sesuai dengan usia kehamilan


Kram perut bawah
Uterus lunak


Abortus imminens


Observasi perdarahan
Istirahat
Hindarkan coitus


Sedikit membesar dari normal





Limbung atau pingsan
Nyeri perut bawah
Nyeri goyang porsio
Massa adneksa
Cairan bebas intraabdomen
Kehamilan ektopik yang terganggu






Laparotomi dan parsial salpingektomi atau salpingostomi




Tertutup/terbuka
Lebih kecil dari usia kehamilan

Sedikit/tanpa nyeri perut bawah
Riwayat ekspulsi hasil konsepsi


Abortus komplit
Tidak perlu terapi spesifik kecuali perdarahan berlanjut atau terjadi infeksi

Sedang hingga masif /banyak
Terbuka
Sesuai usia kehamilan
Kram atau nyeri perut bawah
Belum terjadi akspelsi hasil konsepsi
Abortus insipiens
Evakuasi
Kram atau nyeri perut bawah
Ekspulsi sebagian hasil konsepsi
Abortus inkomplit
evakuasi





Terbuka





Lunak dan lebih besar dari usia kehamilan





Mual/muntah
Kram perut bawah
Sindroma mirip pre eklampsia
Tak ada janin ke luar jaringan seperti anggur
Abortus mola
Evakuasi tatalaksana mola




























PENILAIAN KLINIK
E.     Jenis abortus
Abortus spontan
·         Abortus imminens
Terjadi perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini, kehamilan masih mungkin berlanjut atau di pertahankan.
·         Abortus insipiens
Perdarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsi masih berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukkan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit atau kompit.
·         Abortus inkomplit
Perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis servikalis.
·         Abortus komplit
Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri.
Abortus infeksiosa
abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai komplikasi infeksi. adanya penyebaran kuman atau toksin ke dalam sirkulasi dan kavum peritoneum dapat menimbulkan deptikemia, sepsis, atau peritonitis.
Retensi janin mati (Missed abortion)
Perdarahan pada kehamilan muda disertai dengan retensi hasil konsepsi yang telah mati hingga 8 minggu atau lebih. Biasanya diagnosis tidak dapat ditentukan hanya dalam satu kali pemeriksaan, melainkan memerlukan waktu pengamatan dan pemeriksaan ulangan.


Abortus tidak aman (Unsafe abortion)
Upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksanaan tindakan tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa pasien.
F.      PENANGANAN
a.       Penilaian awal
Untuk penanganan yang memadai, segera lakukan penilaian dari :
·         Keadaan umum pasien
·         Tanda – tanda syok (pucat, berkeringat banyak, pingsan, tekanan sistolik < 90 mmHg, nadi >112 x/menit)
·         Bila syok disertai massa lunak di adneksa, nyeri perut bawah, adanya cairan bebas dalam kavum pelvis; pikirkan kemungkinan kehamilan ektopik yang terganggu
·         Tanda – tanda infeksi atau sepsis (demam tinggi, secret berbau pervaginam, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri goyang porsio, dehidrasi, gelisah atau pingsan)
·         Tentukan melalui evaluasi medik apakah pasien dapat ditatalaksanakan pada fasilitas kesehatan setempat atau di rujuk (setelah dilakukan stabilisasi)

b.      Penanganan spesifik
Abortus imminens
·         Tidak diperlukan pengobatan medik yang khusus atau tirah baring secara total
·         Anjurkan untuk tidak melakukan aktifitas fisik secara berlebihan atau melakukan hubungan seksual
·         Bila perdarahan :
-          Berhenti : lakukan asuhan antenatal terjadwal dan penilaian ulang bila terjadi perdarahan lagi
-          Terus berlangsung : nilai kondisi janin (uji kehamilan/USG). Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyebab lain (hamil ektopik atau mola)
-          Pada fasilitasi kesehatan dengan sarana terbatas, pemantauan hanya dilakukan melalui gejala klinik dan hasil pemeriksaan ginekologik
Abortus insipiens
·         Lakukan prosedur evakuasi hasil konsepsi
Bila usia gestasi ≤ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan peralatan Aspirasi Vakum Manual (AVM) setelah bagian – bagian janin dikeluarkan
Bila usia gestasi ≥ 16 minggu, evakuasi dilakukan dengan prosedur Dilatasi dan Kuretase (D&K)
·         Bila prosedur evakuasi tidak segera dilaksanakan atau usia gestasi lebih besar dari 16 minggu, lakukan tindakan pendahuluan dengan :
-          Infus Oksitosin 20 unit dalam 500 ml NS atau RL mulai dengan 8 tetes/menit yang dapat dinaikkan hingga 40 tetes/menit, sesuai dengan kondisi kontraksi uterus hingga terjadi pengeluaran hasil konsepsi
-          Ergometrin 0,2 mg IM yang diulangi 15 menit kemudian
-          Misoprostol 400 mg per oral dan apabila masih diperlukan, dapat diulangi dengan dosis yang sama setelah 4 jam dari dosis awal.
·         Hasil konsepsi yang tersisa dalam kavum uteri dapat dikeluarkan dengan AVM atau D&K (hati – hati resiko perforasi)
Abortus inkomplit
·         Tentukan besar uterus (taksir usia kehamilan), kanali dan atasi setiap komplikasi (perdarahan hebat, syok, infeksi/sepsis)
·         Hasil konsepsi yang terperangkap pada serviks yang disertai perdarahan hingga ukuran sedang, dapat dikeluarkan secara digital atau cunam ovum. Setelah itu evaluasi perdarahan :
-          Bila perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg IM atau misoprostol 400 mg per oral
-          BIla perdarahan terus berlangsung, evakuasi sisa hasil konsepsi dengan AVM atau D&K (pilihan tergantung dari usia gestasi, pembukaan serviks dan keberadaan bagian – bagian janin)
·         Bila tak ada tanda – tanda infeksi, beri antibiotika profilaksis (ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)
·         Bila terjadi infeksi, beri ampisilin 1 g dan metronidazol 500 mg setiap 8 jam
·         Bila terjadi perdarahan hebat dan usia kehamilan dibawah 16 minggu, segera lakukan evakuasi dengan AVM
·         Bila pasien tampak anemik, berikan sulfas ferosus 600 mg per hari selama 2 minggu (anemia sedang) atau tranfusi darah (anemia berat).
Pada beberapa kasus, abortus inkomplit erat kaitannya dengan abortus tidak aman, oleh sebab itu, perhatikan hal – hal berikut ini :
·         Pastikan tidak ada komplikasi berat seperti sepsis, perforasi uterus atau cedera intra – abdomen (mual/muntah, nyeri punggung, demem, perut kembung, nyeri perut bawah, dinding perut tegang, nyeri ulang lepas)
·         Bersihkan ramuan tradisional, jamu, bahan kaustik
·         Berikan boster tetanus toksoid 0,5 ml bila tampak luka kotor pada dinding vagina atau kanalis servisis dan pasien pernah di imunisasi
·         Bila riwayat pemberian imunisasi tidak jelas, berikan serum anti tetanus (ATS) 1500 Unit IM diikuti dengan pemberian tetanus toksoid 0,5 ml setelah 4 minggu
·         Konseling untuk kontrasepsi pasca keguguran atau pemantauan lanjut
Abortus Komplit
·         Apabila kondisi pasien baik, cukup beri tablet Ergometrin 3×1 tablet/hari untuk 3 hari
·         Apabila pasien mengalami anemia sedang, berikan tablet Sulfas Ferosus 600 mg/hari selama 2 minggu diserai dengan anjuran mengkonsumsi makanan bergizi (susu, sayuran segar, ikan, daging, telur). Untuk anemia berat, berikan transfusi darah.
·         Apabila tidak terdapat tanda – tanda infeksi tidak perlu diberi antibiotika atau apabila khawatir akan infeksi dapat diberi antibiotika profilaksis.


Abortus infeksiosa
·         Kasus ini berisiko tinggi untuk terjadi sepsis, apabila fasilitas kesehatan setempat tidak mempunyai fasilitas yang memadai, rujuk pasien ke rumah sakit.
·         Sebelum merujuk pasien lakukan restorasi cairan yang hilang dengan NS atau RL melalui infuse dan berikan antibiotika (misalnya : ampisilin 1 g dan metronidazol 500 mg).
·         Jika ada riwayat abortus tidak aman, beri ATS dan TT.
·         Pada fasilitas kesehatan yang lengkap, dengan perlindungan antibiotika berspektrum luas dan upaya stabilisasi hingga kondisi pasien memadai, dapat dilakukan pengosongan uterus sesegera mungkin (lakukan secara hati – hati karena tingginya kejadian perforasi pada kondisi ini).
Kombinasi antibiotika untuk abortus Infeksiosa
   Kombinasi antibiotika
          Dosis oral
              Catatan
Ampisilin dan
 metronidazol

3 × 1 g oral dan 3 × 500 mg

Berspektrum luas dan mencakup untuk gonorrhea dan bakteri anaerob
Tetrasiklin dan
 Klindamisin
4 × 500 mg dan 2 × 300 mg
Baik untuk klamidia, gonorrhea dan bakteroides fragilis
Trimethoprim dan
 Sulfamethoksazol
160 mg dan 800 mg
Spectrum cukup luas dan harganya relatif murah




Antibiotika parenteral untuk abortus septik
Antibiotika
    Cara pemberian
              Dosis
Sulbenisilin
Gentamisin
Metronidazol
            IV

3 × 1 G
2 × 80 MG
2 × 1 G
Seftriaksone
            IV
1 × 1 G
Amoksisiklin + Klavulanik Acid
Klindamisin
            IV
3 × 500 MG
3 × 600 MG

Missed abortion
Missed abortion seharusnya di tangani di rumah sakit atas pertimbangan :
·         Plasenta dapat melekat sangat erat di dinding rahim, sehingga prosedur evakuasi (kuretase) akan lebih sulit dan risiko perforasi lebih tinggi.
·         Pada umumnya kanalis servisis dalam keadaan tertutup sehingga perlu tindakan dilatasi dengan batang laminaria selama 12 jam.
·         Tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut denga gangguan pembukaan darah.




Bab III
Pembahasan
Dalam bab ini penulis akan membahas tentang tinjauan kasus pada Ny. “S” usia kehamilan  10 minggu 4 Hari dengan Hyperemesis Gravidarum Tingkat II di Rb Damayanti, tanggal 31 maret 2012. Pembahasan ini dibuat berdasarkan teori dan asuhan yang nyata dengan pendekatan proses manajemen soap yaitu : subyektif, obyektif, assasmant, planning.
Analisa data dasar :
Sebagai langkah awal pengumpulan data dilakukan melalui anamnese yang meliputi data subyektif dan obyektif pada ny “S”
Data subyektif :
1.      Ibu mengeluh mual muntah 10 x lebih dalam sehari sudah satu minggu dan merasa Lemas
2.     Ibu mengatakan ini kehamilan pertamanya tidak pernah keguguran.
Data obyektif :
1.      Ibu tampak lebih lemas
2.      Mata cekung, konjungtiva pucat, skelera ikterik
3.      Bibir tampak lebih kering dan pecah-pecah
4.      Lidah kering dan kotor
5.      Berat badan turun dari 45 kg  menjadi 42 kg
Dengan demikian apa yang dijelaskan pada teori dan ditemukan pada tinjauan kasus secara garis besar tidak ada perbedaan



Merumuskan Diagnosa / Masalah Aktual :
Dalam penegakkan suatu diagnosa kebidanan atau masalah kebidanan berdasarkan pendekatan asuhan kebidanan didukung oleh beberapa data baik data obyektif maupun data subyektif yang diperoleh dan hasil pengkajian yang telah dilaksanakan.
Sedangkan pada kasus Ny. ”S” di dapatkan keluhan berupa mual muntah terus menerus, ibu lebih lemas, mata cekung konjungtiva pucat dan scelera ikterik, bibir tampak kering dan pecah-pecah, lidah kering dan kotor, berat badan menurun dari 45 kg menjadi 42 kg.
Dengan penjelasan tinjauan teori dan tinjauan asuhan kebidanan ternyata terdapat kesamaan pada beberapa aspek sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan untuk tindakan selanjutnya. Adapun diagnosa / masalah aktual yang dapat diidentifikasi pada Ny. “S” yaitu :
Diagnosa : GI A0 P0, usia kehamilan 10 minggu 4 hari (ballotement), keadaan ibu dengan hyperemesis gravidarum tingkat II.
Dan dapat disimpulkan bahwa Ny. “S” dengan kasus hyperemesis gravidarum tingkat II.

  Merumuskan Diagnosa / Masalah Potensial
Berdasarkan teori yang diperoleh bahwa setiap diagnosa / masalah aktual memiliki potensial atau kemungkinan untuk menjadi berat. Oleh karena itu, perlu dilakukan antisipasi sebelum keadaan itu terjadi, pada kasus hyperemesis gravidarum tingkat II pada Ny. “S” diagnosa / masalah potensial yang dapat terjadi adalah potensial terjadi hyperemesis gravidarum tingkat III dan gangguan pertumbuhan serta perkembangan janin. Apabila tidak ditangani dengan baik maka akan mengancam jiwa ibu dan bayinya.
Pada kasus Ny. “S” setiap kali makan selalu dimuntahkan jika tidak mendapat penanganan yang  baik makan akan terjadi hyperemesis gravidarum tingkat III yang menyebabkan dehidrasi yang berat yang dapat mengancam jiwa ibu dan janinnya. Dengan demikian, penulis menyimpulkan bahwa tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dengan kasus yang ditemukan, karena dalam tinjauan pustaka hyperemesis gravidarum tingkat II bila tidak ditangani segera akan berlanjut menjadi hyperemesis gravidarum tingkat III (Wiknjosastro, 2005).
                                               
 Tindakan Segera dan Kolaborasi
       Berdasarkan tinjauan teori, bahwa penanganan atau tindakan yang harus dilakukan pada kasus Hyperemesis Gravidarum adalah pemberian caiaran infus intravena yaitu : Dextrose 5%: 20 tts/mnt serta pemberian obat-obatan .
Pada kasus Ny. “S”, tindakan segera telah dilakukan oleh dan tenaga kesehatan yaitu pemasangan infus dan pemberian obat-obatan.

Rencana tindakan asuhan kebidanan
Menyusun suatu rencana tindakan aktual dan potensial dengan menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Dalam perencanaan ini disusun berdasarkan teori dan disesuaikan dengan kebutuhan ibu.
Pada tinjauan teori perencanaan tindakan dengan hyperemesis gravidarum tingkat II yaitu dengan pencegahan, obat-obatan, terapi psikologis dan pemberian cairan perenteral.
Sedangkan perencanaan tindakan berdasarkan tujuan yang akan dicapai dan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan. Pada tinjauan asuhan kebidanan pada Ny. “S” yang telah dilakukan di lahan praktik meliputi :
1.      Menyampaikan hasil pemeriksaan pada ibu dan jelaskan tentang kondisi yang di alaminya.
2.      Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital
3.      Mengobservasi mual dan muntah
4.      Anjurkan ibu makan sedikit tapi sering.
5.      Hindarkan makanan dan minuman yang dapat merangsang mual dan muntah
6.      Pertahankan kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan.
7.      Membatasi pengunjung.
8.      Memberikan dukungan psikologi pada ibu dengan melibatkan suami atau keluarga.
9.      Mempertahankan intake dan output sesuai kebutuhan
10.  Penatalaksanaan pemberian cairan intravena yaitu Dextrose 5 %
11.  Penatalaksanaan pemberian obat - obatan.
       Namun demikian dari perencanaan yang dilakukan pada kasus Ny. “S”. Hal tersebut disebabkan
karena belum adanya fasilitas khusus yang disiapkan oleh pihak rumah sakit. Hanya saja keluarga
pasien dan pembesuk dibatasi agar ibu dapat istirahat dengan tenang.
Implementasi Asuhan Kebidanan
       Pada tahap asuhan kebidanan pada Ny. “S” bidan melaksanakan sesuai dengan rencana dan seluruh tindakan yang dilakukan sudah berorientasi pada kebutuhan ibu sehingga tujuan dapat dicapai. Hal ini ditunjang oleh ibu yang kooperatif dalam menerima saran dan tindakan yang diberikan.
       Dalam hal ini intake makanan, pemberian diet sudah diatur dengan kebutuhan ibu, hanya saja ibu tidak dapat menghabiskan porsi makan yang diberikan, nafsu makan ibu sangat kurang. Mengenai keseimbangan cairan, di dalam teori mengatakan bahwa jika terjadi dehidrasi, kolaborasi dengan pemberian infus Dextrose 5 % dan ternyata ibu mengalami dehidrasi ditandai dengan mata cekung, konjungtiva pucat, sklera ikterik, bibir pecah-pecah, lidah kering dan kotor, penurunan BB 3 kg dari BB sebelumnya. Sehingga pemberian infus dengan Dextrose 5 % : 20 tetes / menit tetap dilanjutkan untuk mengganti cairan yang keluar.
Evaluasi :
Pada proses evaluasi merupakan langkah akhir dari proses manajemen asuhan kebidanan. Evaluasi akhir pada Ny. “S” menunjukkan adanya kemajuan dan keberhasilan dalam mengatasi hyperemesis gravidarum tingkat II yang dihadapi oleh ibu.
Evaluasi merupakan tahapan dalam asuhan kebidanan yang penting guna mengetahui sejauh mana kemajuan yang telah dicapai. Dalam evaluasi selama 3 kali pemeriksaan pada Ny. “S” yang telah dilakukan untuk kasus hyperemesis gravidarum tingkat II menunjukkan adanya perubahan dengan hasil evaluasi masalah yang telah teratasi antara lain :
1.      Hyperemesis gravidarum teratasi ditandai dengan mual dan muntah sudah berkurang, nafsu makan baik.
2.      Tidak terjadi dehidrasi berat.
Dengan demikian pada tinjauan teori dan studi kasus pada Ny. “S” dilakukan praktik secara garis besar tampak adanya persamaan dan sesuai prosedur. Hal ini dibuktikan karena masalah sudah dapat teratasi dengan baik







Bab IV
Penutup
Kesimpulan
                  Hyperemesis gravidarum yang merupakan komplikasi mual dan muntah pada hamil muda, bila terjadi terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi dan tidak imbangnya cairan dan elektrolit dalam tubuh. Mengingat bahaya Hyperemesis Gravidarum yang cukup banyak dan sering tidak diketahui dan diperhatikan ibu hamil karena dianggap sebagai hal yang wajar pada kehamilan muda dan tanpa disadari komplikasi tersebut dapat mempengaruhi status kesehatan ibu dan janin bahkan dapat menyebabkan kematian ibu.  Pada kasus Ny “S” tindakan segera yang dilakukan pada kasus Hyperemesis Gravidarum adalah pemberian cairan infus intravena yaitu : Dextrose 5% : 20 tts/mnt serta pemberian obat-obatan. Asuhan yang diberikan pada Ny “S” yaitu : pada kehamilan kehamilan 10 Minggu 2 Hari dengan hyperemesis gravidarum tingkat II sesuai dengan rencana tindakan dengan dilakukan pemberian obat-obatan, dan cairan parenteral.
            Selain hyperemesis gravidarum penyakit dalam masa kehamilan seperti anemia dan abortus juga dapat memiliki resiko kematian ibu dan bayi. Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu di waspadai mengingat anemia dapat meningkatkan resiko angka prematuritas, BBLR, dan angka kematian bayi. Untuk mengetahui kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang – kunang, nafsu makan turun (anoreksia), napas pendek (pada anemia berat).  Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi dengan usia kehamilan kurang dari 20 – 22 minggu dan berat kurang dari 500 gram.
Gejala abortus :
1.      Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu.
2.       Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
3.      Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
4.       Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang akibat kontraksi uterus
Saran :
                          Menganjurkan ibu untuk melakukan pemeriksaan secara teratur agar dapat terdeteksi secara dini bila ada kelaianan sehubungan dengan kehamilannya. Pentingnya kesiapan mental dan fisik dalam setiap kehamilan agar status kesehatan ibu dan janin tetap optimal. Menganjurkan ibu untuk segera ke rumah sakit atau puskesmas terdekat bila mengalami salah satu dari tanda bahaya kehamilan. Diharapkan tenaga kesehatan mampu melaksanakan asuhan kebidanan khususnya pada ibu hamil













                                             DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri. Delfi Lutan. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta : EGC.

Manuaba IBG, 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.

Nurlaela, 2010. Buku Ajar : Asuhan Kebidanan I (Kehamilan). Untuk digunakan di lingkungan sendiri. Program D III Kebidanan. Makassar.

Saifuddin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi 1 Cetakan 1. Jakarta : YBP
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Cetakan Kedua. Jakarta : Media Aesculapius
Wasnidar, 2007, Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil, Konsep dan Penatalaksanaan, Jakarta : Trans Info Media
Manuaba IBG, 2007, Pengantar Kuliah Obstetri, Jakarta : EGC
Mansjoer A, dkk, 2008, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta : Media Acsulapius
Wiknjosastro. H, 2005. Ilmu Kandungan. Edisi 3 Cetakan 7. Jakarta : YBP SP

http://xa-dewie.blogspot.com/2010/10/komplikasi-dan-penyulit-kehamilan.html
www.medika.blogspot.com. Hubungan_psikologik_hiperemesis_gravidar um_html. Di akses pada tanggal 27 Mei 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar